UPDATE POST
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

12/09/16

Khutbah Idul Adha : Lima Pilar Kesalehan Keluarga


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 9×
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Pagi ini kita berkumpul di sini, merapatkan jiwa dan raga, menadahkan hati untuk cucuran rahmat Ilahi. Pagi ini kita berkumpul di sini, bertakbir, membesarkan nama Allah, agar terpatri sampai ke relung hati bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, selain-Nya adalah kecil di hadapanNya. Permasalahan sebesar apapun, menjadi kecil di hadapan keagungan kekuasaanNya. Musuh yang kuat, menjadi lemah di hadapan kekuatanNya yang tiada berbatas. Mari bertakbir dengan jiwa, lisan dan raga kita dengan sepenuh hati.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu
Kaum muslimin rahimakumullah,
Ketika kita bertakbir dengan penuh bahagia di sini, kita perhatikan di tepian dunia yang lain di sana kesedihan masih mencengkram. Tapi takbir masih menggema di Jalur Gaza, suriah dan kamp-kamp pengungsian di Turki dan negara sekitarnya di Eropa dengan optimisme atas pertolongan Allah ‘Azza Wajalla.
Takbir pun masih menggema di Gaza, Palestina, diselingi dentuman bom dan letusan peluru, terutama di wilayah Masjidil Aqsha yang telah diambil alih paksa oleh agressor Israel laknatullah. Takbir juga masih bergema di Indonesia yang selalu dibayangi hantu koruptor yang bergentayangan, di tengah kabut asap yang menyapu wilayah Sumatera Kalimantan, dan kolaborasi antek-antek asing yang hendak menghancurkan budaya, sistem dan tatanan bangsa. Ya, takbir masih menggema dengan hentakan iman di dada-dada kita.
Kembali kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita sehingga kita tidak mampu menghitungnya, karena itu keharusan kita adalah memanfaatkan segala kenikmatan dari Allah swt untuk mengabdi kepada-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur itu, salah satunya adalah ibadah berkorban pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik. Allah swt berfirman:
 “Inna A’thoina kalkautsar fasholi lirobbika wanhar”
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al Kautsar [108]:1-2).

            Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat-sahabat dan para penerus risalahnya yang terus berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi ini hingga hari kiamat nanti.
            Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Bersamaan dengan ibadah mereka di sana,  di sini kita pun melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah mereka, di sini kita melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah haji yaitu puasa hari Arafah, pemotongan hewan qurban setelah shalat idul Adha ini dan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik. Itu semua dalam rangka pembuktian totalitas penghambaan kita kepada Allah swt.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Salah satu yang amat kita butuhkan dalam hidup ini adalah mendapatkan figur-figur teladan yang menjadi acuan dan menginspirasi perubahan besar dalam kehidupan kita. Karena itu, Allah swt menjadikan Nabi Ibrahim as dan keluarganya sebagai figur teladan sepanjang masa, bahkan tidak hanya kita yang harus meneladaninya, tapi Nabi Muhammad saw juga harus meneladaninya, Allah swt berfirman:
“Qod kanat lakum uswatun hasanatun fii ibrohima walladzina ma'ah”
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).
Satu dari sekian banyak keteladanan dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah memiliki kesalehan keluarga yang luar biasa. Kesalehan keluarga artinya adalah keluarga yang bisa berjalan dengan baik sesuai kaidah agama, harmonis, dan keberadaannya dibuktikan dengan manfaat yang bisa dirasakan oleh banyak orang.
Oleh karena itu, terwujudnya kesalehan keluarga menjadi sesuatu yang amat penting agar perjalanan keluarga bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan, sebagai bangunan utama yang menopang tegaknya peradaban Islam di muka bumi.
Dalam kaitan ini, paling tidak ada lima pilar kesalehan keluarga yang harus dimiliki oleh setiap keluarga.
Pilar Pertama, memiliki kemandirian nilai dan berpegang teguh kepada akidah Islam yang lurus. Keluarga muslim yang saleh berarti memiliki nilai-nilai Islam yang menjadi landasan berkeluarga dan arah kehidupannya. Suatu keluarga disebut memiliki kesalehan yang kuat manakala berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam dalam menjalani kehidupan meskipun berhadapan dengan kendala yang berat dan lingkungan sosial kultur yang tidak Islami. Memiliki kemandirian nilai tidak hanya dia melaksanakan ajaran Islam di lingkup keluarganya, tapi berusaha meluruskan segala yang tidak Islami di lingkup sosialnya. Kepekaan sosial yang dilandasi Tauhid yang murni adalah tolok ukur yang sahih bagi keluarga yang saleh.
Keluarga Ibrahim as sukses menanamkan nilai-nilai Tauhid dan syariah kepada istri dan anak-anaknya. Namun lebih dari itu, bagi Nabi Ibrahim as siapapun yang menyimpang dari ajaran Allah harus diluruskan, termasuk orang tuanya sendiri dan masyarakat kebanyakan yang keliru, memilih jalan kesesatan menyimpang dari Tauhid, sebagaimana firman Allah swt:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS An’am [6]:74).

Dalam rangka menanamkan nilai-nilai keislaman yang kokoh di dalam keluarga, Allah swt telah menggariskan agar orang tua muslim menerapkan sistem pendidikan Rabbaniah bagi diri dan anak-anaknya. System pendidikan Rabbani yang holistic itu dirangkum dalam rumusan 3 T yaitu:Tilawah (menggemakan bacaan ayat-ayat Allah yang tertulis di Al-Qur’an dan yang terhampar di alam raya), Ta’lim (mengajarkan nilai-nilai Qur’an dan Sunnah serta Iptek) dan Tazkiyah (membentuk karakter diri dengan internalisasi akhlakul karimah dalam laku lampah), yang tertuang secara tersurat dalam doa Nabi Ibrahim dan Ismail,

“Robbana wab'ast fiihim rosuulaminhum yatluu 'alaihim 'ayatika wayu'allimuhumul
kitaba wal hikmata wayuzakkihim, innaka antal 'aziizulhakim”
Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah [2]: 129)
Dalam kehidupan kita sekarang ini dengan pengaruh globalisasi yang sedemikian besar, memiliki kemandirian nilai dan komitmen akidah menjadi perkara yang amat penting, karena sesama anggota keluarga memang tidak bisa saling mengawasi setiap saat, bahkan tingkat kesibukan yang tinggi membuat anggota keluarga sulit berkomunikasi meskipun alat-alat komunikasi sudah semakin canggih.
Diperlukan kontrol yang ketat, muhasabah setiap hari di dalam keluarga kita agar anak-anak kesayangan kita tidak terpapar oleh virus-virus berbahaya yang menggerogoti akidah dan akhlak mereka di lingkungan sekolah dan pergaulannya. Jadilah orang tua seperti Nabi Ya’kub as yang selalu gelisah dan menyiapkan putra-putranya dengan pertanyaan: “Maa Ta’buduuna min ba’di?” apa yang kelak akan kalian ibadahi setelah aku wafat nanti?
Dalam hal ini, Orang tua wajib memantau dan menegakkan sanksi bagi anak-anak yang malas beribadah shalat 5 waktu, mengajarinya membaca Qur’an, disamping membimbing mereka belajar di rumah secara disiplin. Anak-anak kita harus ditanamkan akidah yang kokoh, sehingga bisa membedakan mana akidah yang sahih berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi, dari ajaran yang batil, sesat dan menyimpang.
Demikian pula pengokohan akhlakul karimah, supaya keluarga kita menjauhi kemaksiatan dan siaran-siaran televisi yang pertontonkan pornografi, pornoaksi, kekerasan, keculasan, gaya hidup hedonisme dan konsumtif. Jangan biarkan anak-anak kita ikut arus berpacaran dan berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Jangan pernah menjadi orang tua yang senang berbuat dosa lalu menularkan virus maksiat kepada putra-putrinya, Rasulullah saw bersabda: “Tiga golongan yang Allah haramkan mereka itu masuk sorga, yaitu peminum khamr (miras), orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan orang yang berbuat dayuts, yaitu orang yang menanamkan perbuatan dosa dan maksiat pada keluarganya” (HR. Nasa’I dari Ibnu ‘Umar RA).
Hasil yang dipetik dari kokohnya akidah dan syariah di tengah keluarga kita, sebagai bentuk kaderisasi keimanan, adalah tersambungkannya jalinan kasih keluarga hingga akhirat kelak, berkumpul di dalam jannah-Nya, amiin. Sesuai firman Allah swt:
 (At-Thuur: 21). 
Yang artinya : dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
 (Al-Mu’min: 8). Yang artinya : Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Jamaah Sekalian Yang Dimuliakan Allah swt.

Pilar Kedua yang harus dimiliki keluarga muslim agar memiliki kesalehan yang baik adalah kemandirian ekonomi. Setiap manusia membutuhkan makan, minum, berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan dan sebagainya hingga pengembangan diri. Untuk memenuhi semua itu, dibutuhkan dana dalam jumlah yang cukup dan didapatkan dengan cara yang halal. Karena itu, setiap keluarga, khususnya bapak atau suami harus mampu mengembangkan keluarganya untuk memiliki kemandirian dibidang ekonomi.
Dalam ibadah haji, selain ada Thawaf yang melambangkan kedekatan kepada Allah swt, ada ibadah yang namanya Sa’i yang secara harfiyah berarti usaha, yakni usaha untuk memenuhi segala yang diubutuhkan dan harus dicapai. Siti Hajar berusaha mencari apa yang bisa dikonsumsi untuk Ismail putranya, dengan berjalan dan berlari dari bukit Shafa ke Marwa. Karenanya berusaha secara halal sangat mulia dan mengemis sangat hina, apalagi mencuri dan korupsi untuk menafkahi keluarga, na’udzu billahi min dzalik. Ayah yang menafkahi keluarganya dari harta, uang dan sumber-sumber ekonomi yang haram, jelas-jelas menjadi ayah pendurhaka kepada Allah, Rasul, dan keluarganya. Rasulullah saw bersabda:

Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).
Pendidikan anti-korupsi memang harus diawali dari lingkungan keluarga, dengan menerapkan nafkah yang halal buat keluarga. Sehingga kelak bangsa kita terbebas dari jeratan korupsi, agar kemakmuran dapat dinikmati seluruh rakyat tanpa kecuali.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Hadirin Yang Dirahmati Allah swt.
Ketiga, pilar yang harus dimiliki menuju kesalehan keluarga adalah ketahanan menghadapi goncangan keluarga. Kehidupan keluarga tidak lepas dari berbagai goncangan yang bisa membahayakan keluarga. Ada konflik suami-isteri, ketidakharmonisan antara menantu dengan mertua bahkan dengan orang tuanya sendiri, hubungan orang tua dengan anak atau sebaliknya yang tidak menyenangkan, campur tangan keluarga besar dalam menghadapi persoalan keluarga sampai pengaruh tetangga atau masyarakat sekitar yang tidak selalu baik dalam perjalanan keluarga.
Kunci utama untuk memperkokoh kesalehan keluarga dalam situasi seperti ini adalah konsolidasi suami isteri dan orang tua dengan anak. Ketika ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari isteri atau sebaliknya isteri terhadap suami, maka seseorang harus berpikir dan belajar untuk tetap berinteraksi secara baik, begitu pula antara orang tua dengan anak dan anak dengan orang tua. Disinilah pentingnya untuk memperlakukan keluarga dengan baik sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

Sebaik-baik kamu adalah yang yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku (HR. Ibnu Asakir).
Dalam kaitan dengan keluarga Nabi Ibrahim as, salah satu yang amat penting untuk kita ambil sebagai pelajaran adalah terbangunnya suasana dialogis dalam pendidikan keluarga, sehingga meskipun Nabi Ibrahim as sudah meyakini adanya perintah menyembelih anaknya Ismail dan ini tinggal dilaksanakan, tapi ternyata Nabi Ibrahim berdialog dengan Ismail, bahkan meminta pendapatnya. Sementara Ismail dengan akhlaknya yang mulia, hasil pendidikan Rabbani ayahnya, mengemukakan pendapat yang mengagumkan sebagaimana diceritakan di dalam Al Qur’an:
“Falamma balagho ma’ahus sa’ya qola ya bunayya inniiii arofil manami anniii adzbahuka fandhur madzaataro, qola yaa abatif’al matu’maru, satajidu nii insyaallahu minasshobiriin”
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.( QS Ash Shaffat [37]: 102)
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dirahmati Allah swt.
Pilar Keempat yang harus dimiliki agar keluarga memiliki kesalehan adalah keuletan dan ketangguhan dalam memainkan peran sosial. Kesalehan seorang muslim tidak hanya bersifat pribadi dalam arti ia menjadi baik hanya untuk kepentingan diri dan keluarganya, tapi keshalehannya juga harus ditunjukkan dalam bentuk keshalehan sosial. Hal ini karena di dalam Islam ada dua hubungan yang harus dijalin, yakni hubungan vertikal kepada Allah swt yang biasa disebut dengan hablum minallah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia dan sekitarnya yang disebut dengan hablum minannas.

Kehidupan masyarakat kita, baik dalam skala kecil maupun besar menghadapi begitu banyak persoalan yang menuntut pemecahan dan jalan keluar. Karena itu, keluarga seharusnya bisa memainkan peran sosial di masyarakat sehingga keberadaannya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak dan ini akan membuatnya menjadi keluarga terbaik, Rasulullah saw bersabda:
 “Khoirunnasi anfa’uhum linnasi”
Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain  (HR. Qudha’i dari Jabir ra).
Karena itu, keberadaan kita seharusnya bukan hanya bisa menyumbang persoalan, tapi seharusnya menjadi bagian dari solusi atau jalan keluar dari berbagai persoalan hidup, sehingga harus kita lakukan apa yang disukai Allah swt. Lebih rinci,  Rasulullah saw bersabda:
Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah: rasa gembira yang engkau resapkan ke dalam hati muslim atau memecahkan suatu masalah darinya atau membayarkan utangnya atau mengusir rasa laparnya (HR. Ibnu Abi Dunya dan Thabrani).
Dengan peran sosial yang besar itulah, maka kita akan menjadi bahan pembicaraan yang baik setelah wafat, karena itu, Nabi Ibrahim as berharap demikian, beliau berdoa:
“Robbi habli hukman waalhiqni bissholihin, waj’alli lisana sidqin fiil akhirin, waj’alnii minwarotsati jannatinna’im”
Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83–85)
Bahkan prestasi Nabi Ibrahim dan keluarganya yang terbesar adalah mewariskan konsep ketauhidan yang murni kepada anak cucunya dan masyarakat dunia sehingga terwujud ummat muslim yang patuh kepada hukum Allah, sesuai harapan dan doa beliau. Allah merekamnya,
“Robbana waj’alna muslimaini laka wamin dzurriyyatinaa umatam muslimatal laka, wa arina manasikana watub ‘alaina innaka antat tawwaburrohim”
Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah [2]: 128)

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dirahmati Allah swt.
       
Yang terakhir atau kelima diantara pilar kesalehan keluarga adalah mampu menyelesaikan problema yang dihadapi. Menjalani kehidupan keluarga seringkali berhadapan dengan berbagai problema, jangankan kehidupan keluarga, kehidupan pribadi saja tidak pernah sepi dari persoalan. Kadangkala satu persoalan belum bisa dipecahkan namun sudah muncul lagi persoalan berikut yang bisa jadi lebih berat. Dalam situasi menghadapi problema hidup, sangat penting bagi insan keluarga untuk terus mengokohkan ketaqwaan kepada Allah swt sebab dalam kamus kehidupan orang bertaqwa tidak ada istilah jalan buntu dalam arti persoalan tidak bisa dipecahkan, Allah swt berfirman:
“wamayattaqilaha yaj'allahu makhroja, wa yar zuqhu haitsu layahtasib.”
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS At Thalaq [65]:2-3).
Selain itu pula, keluarga muslim yang saleh, setelah berusaha maksimal dalam menyelesaikan problem hidup, tetap berserah diri dengan total dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakkal adalah salah satu kunci kesuksesan keluarga muslim,
Kehidupan masyarakat kita sekarang dengan tantangan yang sedemikian berat menuntut kehadiran keluarga yang memiliki kesalehan yang baik sehingga diharapkan akan lahir masyarakat dengan kesalehan yang baik karena keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan bangsa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa pupuk kesadaran diri kita untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT, dimanapun dan kapanpun, baik dalam lingkup keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita secara luas. Karena ketakwaan hamba kepada Allah adalah tujuan utama disyariatkannya ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan berkurban. Bukankah Allah menyatakan tujuan kita berpuasa adalah agar kita bertakwa (Qs. Al-Baqarah: 183)? Demikian pula ibadah qurban tidak akan diterima Allah kecuali dari orang-orang yang bertakwa kepadanya “innama yataqabbalullahu minal muttaqin”(Qs. Al-Maidah: 27), “lan yanalallaha luhumuha wa la dima’uha wa lakin yanaluhu attaqwa minkum” (bukanlah daging dan darah hewan-hewan kurban itu yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kita yang dipandang oleh-Nya, Qs. Al-Hajj: 37).

Akhirnya, marilah kita akhiri ibadah shalat Idul Adha pada hari ini dengan berdoa semoga amalan- amalan kita senantiasa mendapatka ridho dari Allah SWT:


اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ والحمد لله رب العالمين...
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ،
اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ فَلَسْطِيْنِ وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَالشَّيْشَانَ، وَأَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَالْمُسْتَعْمِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى نَاتِجَةً مِنْ صِيَامِنَا وَ اجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ مِنْ عَوْدَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، وَاجْعَلْنَا، وَذُرِيَّاتِنَا مِمَّنْ أَقَامَهَا بِأَيْدِيْنَا..
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته



28/08/16

7 Peran Bagi Ibu Untuk Pemimpin


Untuk menjadi pemimpin yang amanah, jujur dan adil merupakan tugas dan tanggung jawab yang amat besar, mencari pemimpin yang sesuai dengan kreteria yang sama-sama kita inginkan sepertinya saat sulit kita jumpai saat ini. Untuk mempunyai pemimpin yang baik, jujur, adil, berilmu dan amanah diperlukan kaderisasi yang harus dimulai dari dini. Orang tua merupakan guru utama dan pertama bagi anak-anak mereka, dan dari sinilah calon pemimpin masa depan akan terlahir, apakah calon pemimpin itu menjadi pemimpin yang sesuai dengan kreteria atau sebaliknya.

Peran seorang ibu untuk mejadikan anaknya sebagai sang pemimpin kecil merupakan proses dan kerja keras yang harus dipersiapkan, dimulai dari masa kandungan, masa pertumbuhan sampai masa kemandirian. Maka dari itu, bagi para ibu seharusnya sudah mempunyai bekal dan ilmu yang cukup untuk mempersiapkan anaknya menjadi pemimpin yang jujur, adil, amanah dan cerdas. Apa saja yang harus dilakukan seorang ibu guna mewujudkan anaknya sebagai pemimpin yang jujur, adil, amanah dan cerdas? Berikut 7 Peran Bagi Ibu Untuk Kepemimpinan versi 7Top Ranking.

1. Agama dan Iman
Agama adalah pegangan hidup manusia, tanpa agama maka manusia itu tidak akan mempunyai tujuan. Agama mengajarkan kepada manusia untuk selau tunduk dan patuh kepada penciptanya yaitu Tuhan yang Maha Esa. Maka dari itulah, para ibu harus sejak dini menanamkan dan mengajarkan Agama serta Iman yang tinggi kepada anak-anak mereka dengan memberikandan menanamkan sikap keagamaan yang didukung dengan latihan dan pembiasaan ibadah setiap harinya. Dengan membiasakan hal tersebut, maka nilai keagamaan dan rasa keimanan tersebut akan tetap tertanam dalam keyakinan anak-anak mereka. Agama dan Iman inilah yang akan menjadi filter bagi sang anak jika mereka menjadi pemimpin, mereka akan hati-hati dalam menggunakan jabatan kepemimpinan yang mereka pegang, jika ada kesalahan dalam memimpin, tentu mereka akan mengembalikannya kepada Agama.

2. Kedisiplinan
Disiplin bukan berarti keras, otoriter dan harus tunduk di bawah perintah, akan tetapi disiplin merupakan kegiatan dan pembiasaan yang diterapkan seorang ibu kepada anaknya berkenaan dengan hal-hal yang harus dilaksanakan sesuai tempat dan waktunya, seperti disiplin waktu ibadah, waktu bermain, waktu belajar dan lainnya. Jika hal ini terlaksana dengan baik, maka sang ibu akan berhasil mendidik anaknya untuk menjadi generasi pemimpin yang disiplin, taat hukum dan peraturan.

3. Bijaksana dan tanggung Jawab
Pemimpin itu harus bijaksana dan mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, maka dari itu, seorang ibu harus melatih sedini mungkin anak-anaknya untuk menjadi anak yang bijaksana dan bertanggung jawab, hal ini bisa dimulai dengan mengajarkan kepeduliaan, kejujuran, rasa peduli dan kasih sayang terhadap sesama saudara, teman dan lingkungan.

4. Ilmu yang Sesuai
Untuk menjadi seorang pemimpin tidak saja dibutuhkan fisik yang kuat, kemauan serta finansial, akan tetapi ilmu yang sesuai juga harus menjadi perhatian yang signifikan. Seorang pemimpin harus tahu apa yang akan dia pimpin, bagaimana cara memimpin dan apa saja yang perlu dipimpin. Dari itulah, seorang ibu perlu memberikan pengajaran serta memberikan bekal ilmu yang cukup yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuan.

5. Akhlak dan Moral
Yang terakhir yang perlu ditanamkan seorang ibu bagi anak-anaknya adalah akhlak dan moral. Bagaimana jadinya jika pemimpin berilmu, mempunya finansial yang cukup, sehat jasmani dan rohani, akan tetapi rusak akhlak dan moralnya, tentu kepemimpinanya tidak akan sukses. Maka dari itu, akhlah dan moral juga harus tertanam sejak dini bagi sang pemimpin kecil yang sudah ditanamkan dan diajarkan ibu kepada anak-anaknya.

6. Tidak Pilih Kasih
Seorang ibu seharusnya tidak pilih kasih dan sayang terhadap anak-anak mereka, sebab jika itu terjadi, maka wajar saja jika anak mereka akan lahir sebagai pemimpim yang nepotisme.

7. Apa Adanya

Jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada anak yang tidak dapat diwujudkan, sebab itu akan merusak kepercayaan anak, apabila itu terus menerus dilakukan tanpa ada perwujudan yang nyata, maka secara tidak langsung akan diingat anak dan akan tertanam dalam jiwa sang anak. Kelak jika anak menjadi seorang pemimpin, maka akan menjadi pemimpin yang selalu mengumbar janji tanpa ada kepastian.


Sumber : http://www.7topranking.com/

Etika Berbicara Menurut Islam

Gambar Ilustrasi

Dibandingkan menulis, berbicara lebih mudah dilakukan. Setiap pembicaraan pasti ada maksud-tujuan yang hendak disampaikan, baik itu pembicaraan secara langsung maupun melalui media elektronik (teknologi). Saking mudahnya dilakukan, orang ketika berbicara seringkali kebablasan, bahkan tak menggunakan etika. Akibatnya, banyak kebencian dan permusuhan terjadi.

Bagaimanakah sesungguhnya etika berbicara yang dianjurkan dalam Islam? 

Pertama, ketika seorang Muslim berbicara hendaknya hanya untuk kebaikan (ma'ruf). Allah SWT berfirman, "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisik mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma'ruf…" (QS An-Nisa [4]: 114).

Kedua, jangan membicarakan semua apa yang didengar. Sebab, bisa jadi semua yang didengar itu menjadi dosa. Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang, yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar." (HR Muslim).

Ketiga, berbicaralah tanpa ada rasa menggunjing (ghibah). "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS Al-Hujarat [49]: 12). Menggunjing orang lain sangat dilarang dalam Islam. Sebab, orang yang menggunjing itu tidak lebih baik dari yang digunjing. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena bisa jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok…" (QS Al-Hujarat [49]: 11).

Keempat, berbicaralah seperlunya saja. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah bersabda, "Termasuk kebaikan Islam-nya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna." (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Kelima, berbicaralah dan jangan mendebat. Sabda Nabi, "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar." (Muttafaq 'Alaih).

Keenam, berbicara dengan tidak memaksakan diri. "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang sombong." (HR At-Tirmidzi).

Ketujuh, berbicaralah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aisyah RA pernah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya." (Muttafaq 'Alaih).


Sejatinya, Islam tidak melarang manusia untuk berbicara. Berbicara justru sangat dianjurkan jika mengandung manfaat dan kebaikan. Tetapi sebaliknya, sangat dilarang jika pembicaraan itu mengandung keburukan dan penyesatan. "Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir hendaknya ia berbicara yang baik-baik atau diam." (Al-Hadis).

#kawuloalit

25/08/16

Ningkataken Amal Shaleh

Khutbah Jum'at

Ningkataken Amal shaleh



Maasyiral Muslimin jamaah jumah rokhimakumullah.

Minangka pambukaning khotbah ing siang punika, sumangga sesarengan kita ngeningaken cipta saha manah kita, kanthi nyaosaken pujo puji syukur ing ngarso dalem Allah SWT, Gusti ingkang Maha Agung. Ingkang sampun paring kanugrahan saha kanikmatan dumateng kita sedaya, sahingga ngantos ing kesempatan Jumah siang punika kita saget nindakaken pangibadahan dumateng Allah SWT.


Kita nyuwun dumateng Allah SWT mugi-mugi ibadah kita ing siang punika saget katampi dening Allah SWT. Sahingga kita saget manggihi kawilujengan ing donya dumugi ing akherat mangke, amin ya rabbal ‘alamin. Sholawat saha salam mugia tetep kita aturaken dumateng junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.


Selajengipun, keparenga kulo caos pemut, khususipun dhumateng kulo piyambak lan umum ipun dhumateng sedoya jama’ah sholat jum’ah, sumonggo sampun ngantos kendel utawi kendhat anggen kita terus usaha lan ikhtiyar murih saya ningkatipun taqwa kita dhumateng Allah SWT. Awit selaku tiyang mukmin kita kedah saget anggadhai aqidah ingkang kiyat, keimanan ingkang teguh, sahingga kanthi iman saha taqwa ingkang kiyat lan teguh, kita sedaya saged pikantuk predikat tiyang ingkang paling mulya ing ngarsanipun Allah SWT. Makaten ingkang dipun dhawuhaken Allah wanten ing Kitab Sucinipun, Al-Quran Surat Al-Hujarat ayat 13

“Inna akromakum ‘indallahi atqokum, innallaha ‘alimun khobir”

Satemene wong kang paling mulya ing ngarsane Allah, ing antarane sira kabeh, yaiku wong kang paling taqwa marang Panjenengane. Mugi-mugi ayat dhawuhipun Allah punika saged langkung nambahi gumregah lan gumregut ing semangat kita anggenipun badhe terus ningkataken ketaqwaan kita dhumateng allah, nopo malih sakmeniko kulo lan panjenegan sami wonten wulan siyam ramadhan, ingkang katah barokah katah amal kesaenan ingkang saget kulo lan panjenegan sami tindaaken. Supados derajat taqwa “la ‘alakum tattaqun” saget kito raih. Meniko sedaya sarana kangge nindakaken dhawuhipun lan nebihi saking sakwarnining awisanipun. Ing salajengipun Allah ngendika wanten ing Surat Al-Imran ayat 102 :

“Ya ayyuhaladzina’amanuttaqullooha haqqo tuqotihi wala tamutunna illa wa’antum muslimun”

E wong-wong kang iman,Sira kabeh padha taqwa-a marang Allah kanthi taqwa kang sabener-benere ! Lan sira kabeh aja pisa-pisan mati kejaba kanthi tetepa dadi wong-wong Islam.

Maasyiral Muslimin jamaah jumah rokhimakumullah.

Ayat punika mengandung arti tigang werni tuntunan ingkang wajib kita tingkataken terus menerus. Inggih punika iman, taqwa lan Islam. menika nedahaken pengejawantahan utawi panjilmaning iman, taqwa lan Islam punika kedah dipun buktekaken kanthi pengamalan. Awit, iman, taqwa lan Islam ingkang tanpa pengamalan, meniko ugi saget kawastanan sanes iman, sanes taqwa lan ugi sanes Islam naminipun. Punika naminipun pengakenan tanpa bukti, utawi pengakenan palsu. Wonten satunggaling hadist ngendikanipun Rasulullah saw ingkang nyebat aken : “Satemene Allah iku ora mirsani marang awak-awakmu lan rupa-rupamu, nanging mirsani marang ati-atimu lan amal-amal perbuatanmu. Mboten namung hadits kemawon, nanging ayat Al-Quran, ugi mboten sekedik ingkang nerangaken bab peranan lan penting ipun amal. Malah wonten satunggaling ayat Al-Quran ingkang negasaken bilih bandha donya lan anak akhiripun mboten wonten ginanipun. Namung amal shalih ingkang manfaati tumrap manungsanipun ingkang nindakaken amal kala wau.

Allah swt wanten ing Kitab Sucinipun ngendika ingkang artosipun “Bandha donya lan anak iku pepaesing urip kadonyan. Lan amal-amal shaleh iku mujudake ganjaran lan pengarep-arep kang paling utama menggahe Pengeran ira.

Kanthi ayat punika sampun jelas sanget tumrap ipun kita sedaya. Mila kanthi ayat dhawuh pangandikan ipun Allah punika, keparenga kita ngajak dhumateng kita sedaya, sumangga kita tingkataken terus amal kesaenan kita kanthi dipun landesi niat ingkang ikhlas lillahi taala. Lan ing babagan ningkataken amal kesaenan punika Rasulullah SAW sampun paring tuntunan lan piwucal makaten : “Sing sapa wonge amal tumindake ing dina iki luwih becik tinimbang amal tumindake ing dina wingi, yaiku wong kang untung (bathi). Lan sing sapa wonge amal tumindake ing dina iki padha karo amal tumindake ing dina wingi, wong mau yaiku wong kang rugi. Lan sing sapa wonge amal tumindake ing dina iki luwih ala tinimbang mala tumindake ing dina wingi, wong kang mangkono iku yaiku wong kang dilaknati dening Allah” (Al-Hadits).

Maasyiral Muslimin jamaah jumah rokhimakumullah.

Bilih kita pahami kanthi njlimet, Gusti kanjeng Nabi merang-merang manungsa dados tigang perangan. Inggih punika :

1. Tiyang ingkang untung. 
2. Tiyang ingkang rugi. 
3 tiyang ingkang badhe manggih bendunipun Allah. 

Wondene tiyang ingkang bathi inggih punika tiyang ingkang amal tumindakipun ing dinten punika langkung sae tinimbang amal tumindakipun ing dinten wingi. Mila saking punika, kita sedaya wajib tansah mbudidaya lan ihtiyar ingkang supadas amal tumindak kita punika saya dangu saya tambah meningkat sae, inggih punika amal tumindak ingkang dipun ridlani dening Allah swt. Sumangga kita tingkataken kewaspadan tuwin pangatos-atos kita, murih gesang kita wanten ing ndonya ingkang naming sepisan punika saget tho sukses, kalebet gesang ingkang dipun ridlani dening Allah SWT, amargi saking perbuatan kita ingkang sae, menawi ndherek istilah agami dipun sebat amal shalih. Inggih punika amal ingkang namung saget dipun tindakaken dening tiyang-tiyang ingkang iman kemawon. Kados dene kasebat wanten ing Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 7 :

“Innaladzina ‘amanu wa’amilussholihati Ulaaika hum khoirul barriyah”

Satemene wong-wong kang iman kang padha nindakake amal shalih, yaiku sabecik-becike makhluke Allah.
Wondene tiyang-tiyang ingkang kufur dhateng ayat-ayat utawi tandha-tandha keluhuranipun Allah, ingkang kesasar amal usahanipun wonten ing ndonya, lan ingkang nerak awisanipun Allah, nasibipun tiyang-tiyang makaten punika ugi sampun jelasaken wanten ing Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 6 :

“Innaladzina kafaru min ahlil kitabi wal musyrikina fiinari jahannama kholidina fihaa, ulaaika hum syarrul bariyyah”

Satemene wong-wong kafir saka ahli kitab lan wong-wong musyrik iku padha kalebokake ana ing sajrone neraka jahanam kanthi langgeng abadi salawas-lawase. Wong-wong mau yaiku sak ala-alane makhluke Allah.

Maasyiral Muslimin jamaah jumah rokhimakumullah.

Makaten sekedik atur keterangan ingkang wonten hubunganipun kaliyan bab amal, mugi-mugi saget nambahi kesadaran kita sedaya, tuwin kabikak ipun manah kita, satemah saget mahanani lan ndorong kita sedaya dados tiyang ingkang tansah Istiqomah wonten ing babakan nindakaken kesaenan. Sahingga kita kagolong tiyang ingkang bekjo ing ndonya ngantos ing akhirat mbenjang, Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamin.


Mukdimah Khutbah Awal

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.





  
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.   

             
Khutbah Kedua


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.


 
Copyright © 2014 Sang Pembelajar. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates